Bahasa Inggris dan Litbangkes
Pada 2-6 Juni 2008, saya mengikuti kegiatan Inter-country workshop on Research Management untuk wilayah Regional Asia Tenggara WHO. Saya bukan sebagai Delri, tapi sebagai supporting staf untuk sekretariatnya. Dan diminta untuk ngemsi selama 10 menit saja, bukan ngemut sirih, tapi jadi MC. Ya, jadilah seminggu sebelum acara ga bisa tidur. Lah jadi MC bahasa Indo aja ga pernah, sekarang jadi MC di depan perwakilan negara-negara pake bahasa Inggris?? Belum lagi rasa percaya diri yang standar banget. Ah, macam bener aja gue ini…
Waktu mulai ngomong, sekilas saya melirik ke Delri: Bu indah, pak narno, pak ondri n pak alo, kayaknya mereka ikutan tegang deh
Tau mereka ikutan tegang, jadi agak lega juga, berarti mereka bisa membayangkan dan merasakan juga apa yang saya rasakan. Hasilnya? Puji Tuhan berjalan baik dan lancar dan setelah selesai jalankan tugas kayaknya pundak saya langsung ringaaaannn deh.
Pulang dari sana saya ditantang atasan saya untuk sharing pengalaman dan pengamatan di Workshop tersebut ke milis kantor, fyi, saya ga pernah posting apa pun di milis tersebut, karena sungkan banget, dan ga merasa ada yang penting yang perlu disampaikan. Trus entah keberanian dari mana saya coba2 aja bikin, ga harus dimulai dari yang penting bukan?
Nah di bawah ini draft-nya, saya biarkan release duluan di blog ini sebelum masuk ke milis kantor, supaya agak lega
- Berbahasa Inggris dan Keberanian
Workshop ini memaksa saya untuk berkomunikasi dalam bahasa inggris, tidak ada alasan dan waktu untuk menghindar, karena tidak ada yang berbahasa Indonesia (kecuali Delri tentunya), apalagi berbahasa batak hehehe..
Agak bingung di awal membiasakan kuping dan lidah dalam suasana bahasa asing, belum lagi logat orang2 yang berbeda dari tiap negara, ibaratnya selama ini dengerin bahasa inggris holywood sekarang harus dengar bahasa inggris bolywood
Dari pengalaman ini, untuk saya, ternyata grammar dan vocabulary saya yang acak-acakan bukan hal penting, yang penting cuma berani. Ya, keberanian. Bahkan walopun misalnya saya punya skor toefl canggih setinggi langit tapi ga berani dicoba ya ga ada artinya. Keberanian cukup menutupi keterbatasan kemampuan saya. Tapi ini juga gak bisa jadi alasan untuk tidak lagi mengembangkan kemampuan sih. Dari pengalaman ini, untuk awal komunikasi dalam bahasa asing, prinsip saya cuma satu: you got me, i got you, and this is what they say simple communication
- Litbangkes
Dari hasil “dengar-dengar” dan “nguping-nguping” sharing delegasi negara lain, menurut saya perkembangan litbangkes Indonesia di wilayah who-searo jauh lebih maju dibandingkan dengan negara lain, salah satunya adalah di saat beberapa negara memperbincangkan advokasi hasil penelitian masih dalam bentuk visi, Badan Litbangkes 3 tahun lalu telah melaksanakan Pelatihan Advokasi Hasil Penelitian (dilaksanakan oleh KI) bahkan policy options diwajibkan menjadi salah satu bab dalam laporan penelitian Badan Litbangkes. Ditambah lagi dengan kegiatan Riskesdas yang dipaparkan, antusias peserta melalui pertanyaan2 lebih tinggi dibandingkan dengan pemaparan lain. Dengan kata lain, pemaparan Indonesia sangat mencuri perhatian kegiatan workshop ini
Tapi, mengutip email Kabadan sebelumnya ternyata pimpinan Depkes melihat hasil penelitian Litbangkes masih begitu-begitu aja. tanya kenapa atau kenapa ditanya?
Padahal, menurut saya, Badan litbangkes sudah diperlengkapi dengan berbagai wadah dan tools, kita punya PPI, KI, KE, Risbinkes, pelatihan-pelatihan, agenda riset (yang sebentar lagi akan di-update), perencanaan-perencanaan yang ideal, anggaran yang terus meningkat, dukungan IT (ada yang bilang kecepatan jaringan internet Litbangkes paling baik dr seluruh unit depkes loh..), perpustakaan (oh iya, setau saya, unit Depkes yang layanan perpustakaan hanya Badan Litbangkes), laboratorium, jurnal publikasi di hampir setiap satker, ditambah lagi milis jaringan yang mematahkan semua jarak, kesibukan dan ke-kikuk-an komunikasi. Imho, mungkin karena kita terlalu nyaman dengan fasilitas yang ada tapi belum kita manfaatkan maksimal.
Masih bingung nambahin apa lagi, karena solusinya tidak terpikirkan…


